LEMBAH NAGA BERMIMPI
Bab 1 : Kejutan
Magrib yang sayu, makin terasa sendu oleh talu genta dan kumandang nyanyian puja-mantra yang syahdu. Demikian suasana vihara atau yang lebih terkenal disebut gereja Siau-lim si, setiap magrib tiba.
Tenang di hati damai di bumi. Demikian
ulasan kata untukmelukiskan suasana di gereja yang termasyur sebagai sumber
ilmu silat itu.
Tetapi tidak demikian suasana pada magrib
itu. Di kala para paderi tengha memusatkan diri dalam alunan doa mantra,
sekonyong-konyong terdengar genta bertalu gencar.
Tang…tang…tang…
Tergetarlah hati para paderi itu.
Konsentrasi mereka pun pecah. Jelas genta bertalu gencar itu menandakan suatu
bahaya atau peristiwa besar telah terjadi di gereja mereka.
Mereka serempak keluar mencari tahu
keadaan.
Ternyata memang telah terjadi suatu kejutan
dalam gereja Siau-lim si. Pusat dari peristiwa itu terjadi di halaman muka dari
Cang-keng-khek atau ruang perpustakaan.
Beratus paderi berdiri tegak, memenuhi
halaman itu, mendekap tangan di dada, mulut berkemak-kemik mengucap doa dengan
suara perlahan macam kumbang mendengung.
Sementara itu genta masih terus bertalu
riuh rendah, membangkitkan suasana tegang.
Beratus mata pader Siau-lim si itu menumpah
ruah pada sesosok tubuh kecil yang tegak seperti patung di tengah lingkaran
mereka.
Tetapi benda itu bukan patung, bukan pula
bangsa setan kecil, melainkan seorang insan manusia. Tepatnya, seorang kacung yang
menjadi pembantu dari paderi yang bertugas menjaga dapur pembakaran kertas
sembahyangan gereja Siau-lim si.
Kepalanya tidak gundul tetapi masih
memelihara rambut. Dengan begitu jelas dia bukan seorang to-thong atau murid
paderi, melainkan seorang kacung dari orang biasa.
Pakaiannya pun dari kain kasar, warna
kelabu. Dekil dan kotor sekali karena berlumuran abu pembakaran kertas.
Tetapi muka dan pakaian yang kumal kotor
itu tiadalah kuasa menutupi wajahnya yang bersemangat dan cerdas.
Tetapi keadaan anak itu tak ubah seperti
setan kecil yang mengerikan. Tangannya berlumuran darah merah, mata memandang
ngeri kearah empat sosok tubuh yang terkapar di hadapannya.
Keempat sosok tubuh itu tak kalah
mengerikan keadaannya. Batok kepala mereka pecah, otak berhamburan, mulut
menganga dan mata melotot keluar. Ternyata keempat orang itu sudah mati.
Tiba-tiba dari kerumun barisan paderi itu,
tampil keluar seorang paderi bertubuh kurus kering. Dengan langkah bergegas, ia
menghampiri keempat sosok mayat itu.
Paderi tua bertubuh kurus itu bukanj lain
adalah Thian Mo siansu, kepala paseban Tat-mo tong dari gereja Siau-lim si.
Sehabis melihat keadaan keempat mayat itu,
mata Thian Mo siansu berkilat-kilat memancarkan api.
“Hem,” ia mendengus lalu memandang kearah
kacung itu dengan mata memberingas.
Ketika pandang mata si kacung beradu dengan
mata Thian Mo siansu, pucatlah seketika mukanya. Ia seperti melihat seekor
harimau buas yang hendak menerkam sehingga tanpa disadari ia menyurut mundur
dua langkah.
“Bilang!” teriak Thian Mo siansu, “dari
siapa engkau belajar pukulan Tay-lik-kim-kong-ciang itu?”
Tay-lik-kim-kong-ciang artinya pukulan
Malaekat raksasa. Sebuah ilmu pukulan istimewa dari perguruan Siau-lim si.
Beratus-ratus paderi terkejut mendengar
ucapan Thian Mo siansu yang begitu tajam dan mengerikan.
Kacung itu pun terbeliak ngeri.
“Engkau dengar tidak?” ulang Thian Mo
siansu dengan suara makin keras, “Siapa yang mengajarkan ilmu Tay-lik-kim-kong-ciang
kepada mu?”
Kacung itu gelagapan, sahutnya: ..”Ti….dak ada…..yang mengajar….aku belajar sendiri…murid….tak
sengaja membunuh keempat suheng itu…ha…harap….”
Sambil melangkah maju setindak, Thian Mo
siansu membentak: “Jawab terus terang! Siapa yang mengajarkan ilmu pukulan Tay-lik-kim-kong-ciang
kepadamu? Kalau tidak ada yang mengajarkan, apakah engkau mencuri pelajaran
itu?”
Thian Mo siansu seorang paderi yang berilmu
tinggi dan berwibawa. Dan kacung itupun seorang anak yang tak pernah bohong.
Tanpa memikirkan akibat apa-apa lgi, ia segera mengaku dengan terus terang.
“ Ya, memang murid belajar sendiri dengan
mencuri lihat para suheng yang sedang
berlatih. Tiada seorang suhu yang mengajarkan kepada murid.”
Saat itu kembali genta bertalu nyaring dan
gencar. Dari jalan di depan halaman tampak serombongan paderi berjubah kelabu,
mengenakan kain kasa warna kuning muda bergaris, sedang berjalan menuju ke
halaman. Mereka berjumlah belas orang dan rata-rata sudah tua. Mereka adalah
paderi-paderi dari paseban Tat-mo tong yang dikepalai oleh Thian Mo siansu.
Di belakang rombongan paderi Tat-mo tong
itu itu, tampak seoran paderi yang bertubuh gagah dan segar, diiring oleh empat
paderi yang berwajah welas asih.
Paderi berwajah segar itu adalah Thian Beng
siansu, ciangbun hongtiang atau ketua dari Siau-lim si sekarang.
Melihat kedatangan ketua Siau-lim si, Thian
Mo siansu segera maju menyongsong.
“Harap ciangbun suheng memaafkan karena
Thian Mo terlambat menyambut kedatangan suheng,” katanya dengan hormat.
“Ah, harap sute jangan banyak peradatan,”
kata Thian Beng siansu, kemudian memandang kacung baju kelabu, “Siapakah yang
membimbing anak itu?”
“Anak pengacau itu adalah pembantu dapur
pembakaran kertas sembahyangan yang dipimpin Thiat Beng sutit (murid
keponakan). Thiat Beng sutit sendiri menderita luka parah juga dari dia.”
Mendengar keterangan itu warna wajah Thian
Beng agak berobah. Dipandangnya kacung itu dengan mata berkilat-kilat.
Melihat kepala Siau-lim si, Thian Beng siansu
hadir, kacung itu makin gelisah ketakutan. Kini ia menyadari bahwa peristiwa
yang telah dilakukan itu benar-benar gawat sekali.
Ia merasa bahwa ia tak sengaja telah kesalahan
tangan memukul keempat suheng sehingga keempat orang itu mati secara
mengenaskan. Dan ia pun tak mengira bahwa pukulannya ternyata sedemikian
dahsyat.
Memang sejak ia berada di gereja Siau-lim si, boleh dikata
setiap hari menjelang peringatan hari Tiong-ciu (pertengahan musim rontok) yang
diadakan tiap tiga tahun sekali, tentu terjadi peristiwa berdarah.
Dan saat itu, juga demikian. Malam itu Siau-lim si tengah sibuk mengadakan
persiapan untuk memperingati hari Tiong-ciu dan ternyata pun terjadi peristiwa
berdarah lagi. Celakanya peristiwa berdarah kali ini, dialah yang melakukan.
Sebenarnya peristiwa itu takkan terjadi dan
dia sendiri pun tak menginginkan terjadi, apabila ia tak terdesak oleh keempat
suhengnya yang bertindeak sewenang-wenang hendak membunuh dirinya. Banyak orang
yang menyaksikan terjadinya peristiwa itu.
Namun peristiwa telah terjadi. Keempat
suhengnya itu telah mati karena tangannya. Ia harus mempertanggungjawabkan
peristiwa itu. Dibesarkan nyalidan diberanikan hatinya untuk menghadap ketua
Siau-lim si.
“Ciangbun taysu yangmulia, murid bernama
Lamkiong Wan…”
“Tutup mulutmu!” bentak Thian Mo siansu
sehingga kacung itu tersentak diam, “Sungguh besar sekali nyalimu! Sudah
membunuh empat suheng masih mau bicara apa lagi?”
Namun sesaat kemudian,kacung itumenyadari
bahwa ia harus bicara untuk membela diri. Maka dengan suara gemetar ia menyahut
: “Murid benar-benar tak sengaja….membunuh keempat suheng itu….”
“Ciangbun suheng” kata Thian Mo siansu kepada
Thian Beng siansu tanpa menggubris kacung itu, “dia mengaku telah mencuri
belajar. Ini sudah melanggar peraturan dari gereja Siau-limsi yang menetapkan,
barang siapa berani mencuri pelajaran silat, akan dihukummati. Paling
ringan, urat-uratnya diputus dan diusir dari gereja…”
Mendengar
itu, kepala Lamkiong Wan berdenyut-denyut, pandang mata berbinar-binar.
Kejutnya lebih dari dipagut ular atau mendengar halilintar meletus di siang
hari. Air matanya serentak bercucuran. Ia segera teringat akan nasibnya yang
penuh duka nestapa.
Semenjak kecil ayahnya sudah meninggal
dunia. Ia hidup bersama mamahnya dalam kemelaratan, tanpa sanak tanpa keluarga.
Tujuh tahun yang lalu ketika ia menyatakan keinginannya untuk mengembara cari
pengalaman, mamahnya menangis dan mencegahnya. Mamahnya menganjurkan supaya dia
menuju ke vihara Siau-lim si untuk belajar ilmu silat.
“Ayahmu tak mengerti ilmu silat dan
orangnya polos,” mamahnya bercerita, “akibatnya ia bertemu dengan kawanan
penjahat yang bukan saja merampas dagangannya pun juga merampas jiwanya…”
Mamahnya mengharap, ia dapat belajar ilmu
silat agar kelak jika mengembara,
apabila bertemu dengan penjahat, dapat membela diri.
Maka datanglah Lamkiong Wan ke vihara
Siau-lim si. Ia diterimamenjadi kacung pembantu dapur pembakaran kertas
sembahyangan. Disamping itu, diam-diam ia mempelajari ilmu silat. Tak pernah ia
membayangkan bahwa tindakannya mempelajari ilmu silat itu akhirnya akan
menimbulkan musibah besar pada dirinya.
Pada saat Lamkiong Wan sedang terkenang
pada nasibnya, Thian Mo siansu melanjutkan laporannya kepada ketua Siau-lim si.
“Dia berani mencuri belajar ilmu pukulan Tay-lik-kim-kong-ciang.
Kesalahannya itu harus dihukummati. Apalagi dengan pukulan itu dia berani
membunuh empat suhengnya. Dosanya tiada berampun lagi. Harap ciangbun suheng member
keputusan.”
Tiba-tiba Lamkiong Wan berteriak kalap: “Tidak,
aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Taysu sekalian adalah orang yang welas
asih,mohon taysu sekalian jangan membunuh murid…”
Ia terus berlutut dihadapan ketua Siau-lim
si. Air matanya bercucuran deras. Ia menangis.
Sejenak merenung, Thian Beng siansu
menjawab sutenya:”Peraturan perguruan kita memang keras. Karena telah melanggar
beberapa pantangan dalam peraturan kita, anak itu tentu tak dapat dibebaskan
dari hukuman”
Lamkiong Wan menjerit makin keras: “Taysu,
kasihanilah murid yang masih mempunyai seorang ibu yang sudah tua . Jika aku
mati, ibuku tentu menderita sekali dan tentu tak mau hidup lagi. Taysu, jangan
membunuh aku, jangan membunuh aku…”
“Murid-murid Tat-mo tong, ringkuslah
pengkhianat itu!” Thian Mo siansu segera memberi perintah.
Kedelapan belas paderi dari Tat-mo tong itu
segera maju mengurung Lamkiong Wan.
Lamkiong wan menangis gerung-gerung,
teriaknya: “Obat takkan membunuh penyakit, Buddha datang pada orang yang
berjodoh. Manusia tak lepas dari kesalahan. Tahu kesalahan dan dapat
memperbaiki, adalah suatu dharma yang besar. Taysu sekalian adalah
paderi-paderi yang luhur dan suci, sudilah member ampun atas kesalahan murid…”
“Mengapa tidak lekas turun tangan, mau
tunggu apa lagi?”teriak Thian Mo siansu.
Sambil berseru “Omintohud” kedelapan belas
paderi Tat-mo tong itu segera bergerak.
Melihat itu hancurlah hati Lamkiong Wan,ia
tahu permohonannya ditolak. Tangisnya makin keras dan memilukan hati. Akhirnya
ia berteriak:
“Mamah! Ampunilah puteramu yang tak
berbakti ini. Aku tak dapat merawatmu sampai di hari tua!”
Ratapan itu dilantangkan dengan nada pilu
dan putus asa, bagaikan irama khim (harpa) yang melengkingkan lagu sedih di
tengah malam.
Walaupun kedelapan belas paderi Tat-mo tong
itu berhati baja, beriman kokoh dalam pendiriannya mematuhi peraturan gereja namun
mereka tetap manusia yang terdiri darah dan daging. Sejenak mereka berhenti,
kemudian pada lain saat maju pula.
Mendadak sepasang mata Lamkiong Wan
memancarkan sinar memberingas yang mengejutkan dan serentak mulutnya pun membentak nyaring: “Berhenti!”
Sedfemikian dahsyat bentakan Lamkiong Wan
sehingga tanpa disadari kedelapan belas paderi Tat-mo tong itupun serempak berhenti.
Thian Beng siansu dan Thian Mo sdiansu yang
merupakan tokoh-tokoh terkemuka dari Siau-lim si dewasa itu, seketika berobah
warna mukanya demi mendengar bentakan Lamkiong Wan. Bentakan anak itu mengandung
suatu daya tenaga dahsyat yang penuh wibawa, mirip dengan sebuah ilmu bentakan
tenaga dalam sakti yang disebut Say-cu-ho atau raung singa, yang terkenal dalam
dunia persilatan.
Tetapi pada lain kejap, kedua pimpinan Siau
lim si itu menyadari bahwa tak mungkin kacung itu dapat melancarkan ilmu
bentakan Say-cu-ho,karena ilmu Say cu ho harus dilancarkan dengan tenaga dalam
sakti yang membutuhkan waktu paling sedikit sepuluh tahun untuk berlatih.
Padahal kacung itu baru tujuh tahun diterima di Siau-lim si. Taruh kata begitu
masuk terus belajar silat, tetap tak mungkin dapat memiliki tenaga dalam yang
sedemikian saktinya.
“Aku telah meratap-ratap memohon belas
kasihan kepada kalian tetapi ternyata kalian tak memperdulikan sama sekali.
Sekalipun aku harus mati tetapi tak semudah itu kalian dapat membunuhku,” seru
Lamkiong Wan.
Dengan menggertak gigi, kembali dia berseru
geram: “Siapa yang menyingkir tentu hidup,yang menghadang tentu mati!”
Bagai seekor harimau yang keluar dari
kandang, ia menerjang kedelapan belas paderi Tat-mo tong itu.
“Lamkiong Wan!” teriak kawanan paderi
Tat-mo tong, “Engkau berani melawan!”
Tiga paderi Tat-mo tong cepat mencengkeram
bahu kacung itu. Melihat itu dengan mata berapi-api, Lamkiong Wan segera balas
menghantam. Segulung angin pukulan menderu-deru melanda ke dada paderi Tat-mo
tong itu.
Kedelapan belas paderi Tat-mo tong itu
merupakan paderi dari angkatan yang bergelar Thiat. Dengan membanggakan ilmu
kepandaiannya yang tinggi, sudah tentu mereka tak memandang mata terhadap
kacung pekerja dapur pembakaran kertas sembahyangan itu.
Maka paderi yang diserang Lamkiong Wan itu
segera membalikkan tangan untuk mrenangkis. Tetapi seketika itu ia rasakan
suatu tenaga dalam yang menyerupai gunung rubuh melandanya. Ia hendak
menyingkir tetapi sudah terlambat. Sekali mendeluh, tubuhnya terlempar sampai setombak lebih jauhnya.
Serempak pada saat itu, kedua paderi yang
menerkam dari kanan dan kiri, pun telah ditutuk dengan jari dan ditendang.
Kedua paderi itu terdesak dan loncat mundur.
Setelah dalam satu gebrak dapat
mengundurkan tiga paderi Tat-mo tong yang sakti, Lamkiong Wan pun menerobos
keluar dari kepungan.
Peristiwa itu benar-benar mengejutkan
sekali. Seorang kacung dapur pembakaran kertas, dalam satu gebrak saja dapat
menghalau tiga paderi golongan kojiu atau jago sakti dari Tat-mo tong.
Terdengar gemuruh suara Omintohud.
Paderi-paderi dari paseban Lo-han tong yang berada di lapisan luar dari
kepungan paderi-paderi Tat-mo tong, telah berhantam dengan Lamkiong Wan.
Sikap kacung itu tak ubah sebagai seekor
binatang buas. Sepasang matanya memancar sinar dingin yang penuh dendan
keganasan. Seraya mengangkat tangan kanannya,ia segera menghantam sepenuh
tenaga kearah enam paderi Lo-han tong yang menghadang di hadapannya.
“Blaaang……!”
Terdengar letupan keras. Mulut Lamkiong Wan
bersuit keras dan tubuhnya terlempar ke udara. Tetapi ketika di udara kacung
itu berjumpalitan lalu meluncur turun kesamping melampaui kepala paderi yang
berada di samping dan tahu-tahu telah menerobos keluar dari kepungan.
Para paderi Lo-han tong itu terlongong-longong
menyaksikan kepandaian Lamkiong Wan.
Selekas menginjak tanah, kacung itu segera
lari sekencang-kencangnya. Tetapi baru mencapai sepuluh tombak, tiba-tiba
terdengar suara orang membentak keras: “Pemberontak, engkau mampu lolos?”
Dari gerumbul pohon bambu yang gelap,
muncul seorang paderi yang langsung menendang perut Lamkiong wan.
Namun anak itu tak gentar, setelah berajak
mengegos kesamping, cepat ia gunakan pukulan penembus hati, menghujam ke dada
lawan. Deru angin pukulan itu bagaikan ombak samudera yang mendampar pantai.
Paderi itu seorang kojiu dari angkatan
Thiat. Dia cukup tahu akan kelihayan pukulan Lamkiong Wan. Dengan tertawa
dingin, dia segera loncat mundur beberapa langkah. Kesempatan itu tak
disia-siakan Lamkiong Wan yang segera tancap gas lari seperti anak panah
terlepas dari busur.
Saat itu Lamkiong Wan hanya mempunyai satu
tekad, menyelamatkan diri. Tiap kekuatan langkah kaki, tiap kesempatan hidup,
betapapun kecilnya, harus ia pergunakan sebaik-baiknya. Lari, lari..ya lari
secepat kilat menyambar, halilintar memancar.
Sudah tujuh tahun lamanya Lamkiong Wan
tinggal di vihara Siau lim si, maka ia faham sekali akan keadaan setiap tempat
di lingkungan vihara itu. Dalam beberapa kejap, tibalah ia di tembok vihara
sebelah barat.
Kembali genta bertalu gencar melantangkan bahaya.
Tiba-tiba dari sebuah pondok yang terletak
dekat tembok sebelah barat itu, muncul sesosok bayangan warna kelabu. Cepat
sekali bayangan itu bergerak menghampiri. Melihat itu bukan kepalang terkejut
Lamkiong Wan.
Namun sudah bulat tekad Lamkiong Wan.
Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Barang siapa yang menghadang jalannya,
pasti akan diterjang. Demikian pula dengan bayangan kelabu yang ternyata
seorang paderi tua itu. Pada saat mengangkat kaki dalam gerakannya lari itu,
Lamkiong Wan melanjutkan sekali dengan menendang ke perut paderi tua itu, kedua
jari tangan kirinyapun serempak menusuk dada orang.
Ternyata paderi tua itu hebat sekali ilmu
kepandaiannya. Sambil mengendapkan tangan ke bawah, tubuhnya pun condong
kesamping. Dan pada jarak hanya terpaut seujung ramputlah ia dapat terhindar
dari tendangan dan tutukan Lamkiong Wan. Bahkan kini anak itu yang terkejut
sekali karena pergelangan tangannya sudah dicengkeram orang.
Ilmu Soh-liong jiu atau tangan menjepit naga dari paderi tua itu luar biasa
hebatnya.
“Mati aku sekarang….” Lamkiong Wan merintih
dalam hati.
Tiba-tiba paderi tua itu mendesuh kejut: “Apakah
engkau bukan Kiong Wan?”
Lamkiong Wan memandang kemuka. Dilihatnya
paderi tua itu rambut dan jenggotnya sudah putih, berwajah penuh welas asih. Air
mata Lamkiong Wan berderai-derai.
“Lo-siansu, mohon segera lepaskan aku…”
serunya dengan nada gemetar.
Paderi tua berambut putih itu adalah suheng
dari ketua Siuau-lim si yang sekarang. Thian Lo siansu, demikian gelarnya.
Diantara paderi tua angkatan Thian, dialah yang paling tinggi kepandaiannya.
Seorang paderi yang berbakat cemerlang tapi tak temaha nama dan kedudukan, tak
mau menjabat pimpinan Siau-lim si dan hidup menyendiri dalam sebuah pondok
dekat tembok vihara sebelah barat.
Memang biasanya Lamkiong Wan sering datang
ke pondok Thian Lo siansu untuk menemaninya main catur. Lama kelamaan timbul
rasa suka paderi tua itu terhadap Lamkiong Wan. Keduanya telah menjalin suatu
hubungan yang amat dirahasiakan. Tiada seoarngpun yang tahu apa yang dilakukan
Thian Lo-siansu kepada anak itu.
Mendengar suara genta bertalu gencar dan
pekik teriakan yang hiruk pikuk dari arah belakang, wajah cerah dari paderi tua
itu agak berobah warnanya.
“Lamkiong Wan, engkau telah melakukan
kesalahan apa?” tegurnya dengan nada sarat.
Dengan suara beriba-iba Lamkiong Wan
menyahut: “Aku…telah kesakahan tangan membunuh suheng dan mencuri belajar silat….kunohon
lo-siansu suka bermurah hati memberi jalan hidup. Budi pertolongan lo-siansu
takkan kulupakan selama-lamanya…”
Air mata anak itu bercucuran deras, nada
suaranya pilu menyayat hati.
Sekonyong-konyong Thian Lo-siansu membentak
keras: “Dosa besar. Harus mati!”
Seketika tubuh Lamkiong Wan seperti ditarik
oleh sebuah arus tenaga yang amat kuat sehingga ia terlempar ke udara, melayang
melampaui tembokvihara yang tinggi.
Tetapi selekas tiba di tanah, segera
Lamkiong Wan mendengar gema suara tertawa menyeramkan. Tahu-tahu dihadapannya
tegak seorang paderi bertubuh kurus kering atau Thian Mo siansu, ketua dari
paseban Tat-mo tong.
Kejut Lamkiong Wan lebih dari disambar
petir.
“Pengkhianat, apakah engkau mampu melarikan
diri?” seru Thian Mo siansu dengan nada dingin seraya ayunkan tangannya
menghantam. Pukulan itu menimbulkan deru angin yang dahsyat.
Melihat itu timbullah kenekadan Lamkiong
Wan. Lebih baik ia songsong saja dengan pukulan agar tenaga lawan tidak terlalu
berat menekan dirinya. Keputusan itu segera dilaksanakan dengan sebuah loncatan
kemuka untuk menangkis.
Sudah tentu tenaga dalam paderi yang
berkepandaian setinggi Thian Mo siansu itu hebat sekali. Walaupun dapat
menangkis, tetapi isi dada Lamkiong Wan terasa bergolak-golak dan tubuhnyapun
terhuyung-huyung mundur sampai lima langkah. “Huak….” Ia muntah darah dan jatuh
duduk di tanah.
Thian Mo siansu telah menggunakan enam
bagian dari tenaga dalam pada pukulannya itu. Ia yakin kacung itu tentu mampus.
Tetapi alangkah kejutnya ketika Lamkiong Wan masih hidup.
Lamkiong Wan merasa bahwa ia telah
menderita luka dalam yang parah. Diam-diam ia meratap : “Habislah riwayatku
sekarang! Bantuan Thian Lo-siansu tadi tetap tak mampu menyelamatkan diriku…”
Selepas rasa kejut, wajah Thian Mo siansu
memberingas memancarkan cahaya pembunuhan.
“Pemberontak, bilang sejujurnya, siapa yang
mengajarkan ilmu silat kepadamu!” bentaknya dengan keras.
Sudah tentu dia tak percaya bahwa seorang
kacung dapur pembakaran kertas sembahyangan mampu menguasai ilmu silat yang sedemikian mengejutkan hanya dengan
mencuri lihat murid-murid lain berlatih silat.
Dalam belajar ilmu silat harus mempunyai
tiga syarat penting: bakat, guru, waktu.
Walaupun memiliki bakat yang luar biasa
hebatnya, tanpa mendapat bimbingan guru yang tepat tentu sukar untukmenguasai
ilmu kepandaian yang tinggi. Pun walaupun mempunyai guru yang sakti, menilik
umurnya yang masih begitu muda, taruh kata sejak lahir sudah belajar silat, pun
kacung itu dalam usianya yang belum cukup dua puluh tahun,tetap takkan sehebat
itu.
Lamkiong Wan tertawa dingin.
“Mencuri di belakang” sahutnya, “Mengapa
bertanya lagi?”
Karena gusarnya, wajah Thian Mo siansu
sampai merah padam, mata melotot dan tiba-tiba ia ayunkan kakinya menendang
tenggorokan anak itu.
Lamkiong Wan masih berusaha miringkan
kepala untuk menghindar lalu gerakkan tangan untuk menutuk tiga buah jalan
darah di kaki paderi itu.
Makin terkejutlah Thian Mo siansu melihat
gerakan anak itu. Kiranya anak itupun mampu juga menggunakan ilmu Can-liong jiu
atau Tangan penebas naga. Dengan begitu jelas anak itu telah mempelajari
sebagian besar dari ilmu pusaka Siau-lim si! Adakah dia memang murid partai
persilatan lain yang sengaja diselundupkan kedalam vihara Siau-lim si?
Timbulnya prasangka itu membangkitkan nafsu
pembunuhan dalam hati Thian Mo. Segera ia gunakan jurus Yang-koan thian thian
siang atau Menengadah memandang cakrawala untuk merebahkan diri kebelakang.
Saat itu Lamkiong Wan rasakan samping
tubuhnya berhembus angin lembut tetapi ternyata hembusan angin lembut itu berasal dari tubuh Thian Mo siansu yang
berputar-putar melingkar kesamping kirinya. Lamkiong Wan cepat melenting bangun
dan balas memukul.
Thian Mo siansu tertawa dingin. Cepat ia
menekuk siku lengannya kebawah untuk menutuk lambung kacung itu.
Bermula paderi kepala paseban Tat-mo tong
itu hendak membunuh Lamkiong Wan tetapi kini ia merobah putusannya. Kini dia
hendak menangkap kacung itu dan memaksanya supaya memberi keterangan partai mana yang mengirim dia
menyelundup ke Siau-lim si. Jika sebelumnya tiada mempunyai bekal kepandaian,
tak mungkin anak itu ddapat mencuri dan memahami ilmu pusaka Siau-lim si.
Pikirnya.
Berturut-turut Lamkiong Wan harus melakukan
tiga jurus gerak baru dapat menghindari tutukan Thian Mo siansu.
Tiba-tiba telinga Lamkiong Wan terngiang
suara yang amat lembut : “Kiong Wan, lekas mundur ke tembok. Aku akan
membantumu, kalau tidak, tak sampai sepuluh jurus saja engkau tentu sudah
ditangkapnya”
Tersentak kaget Lamkiong Wan mendengar
suara lembut itu. Memandang keempat penjuru ia tak melihat barang seorang pun.
Saat itu dua buah pukulan Thian Mo siansu
kembali melanda tiba sehingga anak itu terdesak mundur sampai empat langkah.
Lamkiong Wan taka sing lagi bahwa suara
lembut itu adalah nada suara Thian Lo-siansu. Melihat bahwa Thian Mo siansu tak
mengetahui hal itu, Lamkiong Wan cepat menduga bahwa Thian Lo siansu tentu
menggunakan Toan im jip si atau ilmu menyusup suara yang dilambari tenaga dalam
tinggi. Tak ragu lagi ia segera mundur mepet tembok.
Tiba-tiba
suara lembut itu mengiang di telinganya pula : “Jangan engkau bergerak
lagi, akan kubantumu mengundurkannya.”
Melihat kacung itu mundur sampai mepet
tembok, diam-diam Thian Mo siansu menghimpun tenaga dalam kearah tangan lalu
pelahan-lahan mengangkatnya keatas.
Tahu bahwa tiada jalan mundur lagi,
Lamkiong Wan menyadari bahwa kali ini dia tentu mati. Ia hendak bergerak
menghindar tetapi teringat akan pesan Thian Lo siansu.
Dalam kebimbangan tiba-tiba ia rasakan dari
tembok itu mengalir arus hawa yang hangat mengalir kedalam jalan darah Beng bun hiat di
punggungnya lalu menyebar keseluruh tubuh. Seketika semangatnya menggelora.
Dengan menggembor keras ia segera dorongkan kedua tangannya kemuka.
Sebenarnya hantaman Thian Mo siansu tadi
bukan hendak memukulnya sungguh-sungguh melainkan hanya suatu gerak ancaman
kosong agar segera berganti jurus untuk menangkapnya. Maka iapun tidak
menggunakan tenaga penuh.
Ternyata Lamkiong Wan tak mau beringsut
dari tempatnya. Terpaksa Thian Mo pun hendak berganti jurus untuk
mencengkeramnya. Tetapi saat itu
Lamkiong Wan sudah mendahului mendorongkan kedua tangannya. Kejut Thian Mo bukan
kepalang. Lebih kaget pula ketika ia merasakan betapa dahsyat gelombang
dorongan tangan anak itu yang melanda dirinya. Buru-buru paderi itu kerahkan
tenaga dalam ke lengan kanan untuk menangkisnya.
“Praaak….”
Tidak keras suara yang timbul dari benturan
tangan mereka tetapi Thian Mo siansu terdengar mendesuh tertahan, bahunya
bergetar dan menyurut mundur selangkah.
Paderi tua kepala paseban Tat-mo tong itu
tegak berdiri terlongong-longong meandang Lamkiong Wan. Sinar matanya
berkilat-kilat, entah memancarkan rasa kejut atau dendam.
Sudah tentu Lamkiong Wan ngeri melihatnya.
Tiba-tiba telinganya terngiang pula suara
lembut :” Kalau tak lekas kabur, mau tunggu apa lagi. Aku kali ini telah melanggar
peraturan untuk membantumu. Dosaku besar sekali. Tetapi kalau tidak karena
sayang melihat bakatmu yang hebat sehingga secara diam-diam kuberimu ilmu
pelajaran, tentulah tak bakal terjadi peristiwa seperti hari ini. Selanjutnya
engkau harus hati-hati menjaga diri. Anak murid Siau-lim si tersebar luas
dimana-mana, sebaiknya engkau merahasiakan jejakmu, pergilah!”
Saat itu tegang sekali perasaan Lamkiong
Wan. Ia teringat bagaimana setiap kali mencuri lihat murid-murid Siau-lim si
sedang belajar silat, apalagi dia tak mengerti maka dalam kesempatan menemani
Thian Lo siansu main catur, ia tentu meminta penjelasan dan petunjuk.
Belum habis dia melamun tiba-tiba dari
belakang tembok mendampar pula gelombang tenaga dalam dahsyat. Lamkiong Wan
tersadar, cepat ia memanfaatkan bantuan tenaga itu untuk loncat ke udara.
Berkat arus tenaga dahsyat tadi maka
dapatlah ia melambung samapi dua tombak tingginya. Kemudian ia berjumpalitan
dan melayang turun sejauh empat tombak dari tembok vihara,terus lari
sekencang-kencangnya lenyap kedalam rimba.
Melihat ilmu ginkang Lamkiong Wan
sedemikian sakti, hati Thian Mo siansu makin tersayat. Huak..ia muntah darah,
tubuhnya menggigil, Jelas dia telah menderita luka dalam yang parah sehingga
hampir rubuh.
Dalam pada itu Lamkiong Wan tak
memperdulikan lagi lukanya yang berat. Ia tahu bahwa tanpa bantuan paderi Thian
Lo yang baik budi, tentulah ia sudah mati di tangan Thian Mo siansu. Dan
apabila sampai tertangkap lagi, jelas dia tentu akan menerima hukuman mati.
Bukan karena ia takut mati, tetapi kalau ia
mati siapakah yang akan merawat ibunya
yang sudah tua itu?
Teringat akan nasibnya selama ini, air
matanya bercucuran. Seketika teringatlah ia akan kata-kata ibunya yang sudah
berambut putih: “Anakku, setelah engkau diterima di vihara Siau-lim si , engkau
harus dapat menahan segala penderitaan. Keluarga Lamkionghanya tergantung pada
dirimu seorang. Oleh karena itu jiwamu lebih penting dari segala apa.
Sebenarnya aku tak ingin engkau menderita, ah,,tetapi….”
Teringat akan hal itu seketika Lamkiong Wan
berteriak keras:”Mah, aku tak maumati, aku tak mau mati! Aku akan pulang untuk
merawatmu sampai di akhir hayat…”
Suasana daerah gunung di tengah
malamsungguh menyeramkanm. Pohon-pohon siong berderak-derak macam jeritan
hantu. Binatang-binatang sahut menyahut mengumandangkan bunyi yang mengerikan.
Tetapi Lamkiong Wan tak menghiraukan hal itu. Ia lari terus, siang malam tanpa
berhenti. Setelah tiga hari tiga malam lari seperti dikejar setan, akhirnya ia
dapat melintasi juga baris gunung yang berderet-deret.
Saat itu bintang mulai pudar, bulan pun
susut dan kegelapan malam mulai terkuak. Jauh disebelah muka tampak sebuah kota
kecil. Lamkiong Wan tak dapat menahan rintihan perutnya yang kosong. Tiba-tiba
ia teringat bahwa dirumahnya tiada barang persediaan apa-apa. Seketika ia
berhenti dan tertegun.
Waktu lari dari Siau-lim si ia tak membawa
bekal apa-apa kecuali pakaian yang melekat dibadannya itu. Setelah lari sampai
empat hari, pakaiannya yang sudah butut itu, compang camping tak keruan.
Kembali ia menitikkan beberapa tetes air
mata.
“Ah,” ia menghela napas. Ia segera ayunkan
langkah menuju ketempat yang atapnya tampak membubung asap. Dalam keadaan
seperti saat itu, terpaksa ia harus tebalkan muka untuk meminta nasi kepada
orang.
Setelah menyusur jalan kecil dan menyusuri
bukit yang naik turun kemudian menyusup sebuah hutan, ia melihat sebuah
jembatan batu. Aliran yang berada dibawahnya bening sekali airnya. Pada ujung
disebelah muka hutan, tampak sebuah halaman dari sebuah gedung besar.
Hebat juga bangunan gedung itu. Pintu
gapuranya berwarna merah, alat penutup pada pintu itu berbentuk sepasang kepala
harimau dari bahan tembaga, mulut harimau itumenggigitbesi bundar kancing
pintu. Di kedua samping pintu, dihias dengan sepasang singa batu sehingga
menambah perbawa.Pohon-pohon tua yang tinggi dan rindang menaungi pagar
temboknya yang tinggi.
Pintu terkancing dan suasana gedung itu
sunyi sekali. Lamkiong Wan hanya mondar mandir diluar pintu gerbang, tak berani mengetuk. Rupanya terpengaruh juga
pikirannya akan keadaan gedung itu.
Tetapi menunggu sampai matahari naik tinggi
tetap belum tampak muncul sesorang dari gedung itu. Apakah gedung ini kosong? Pikir
Lamkiong Wan. Tetapi jelas tadi pagi dibagian belakang gedung itu mengepulkan
asap. Tentu terdapat penghuninya.
Menengadahkan muka, Lamkiong Wan melihat
diatas pintu gerbang terdapat empat buah huruf berbunyi Gedung besar keluarga
Li.
Pagar tembok gedung yang berwarna hitam
menambah keseraman suasana gedung itu. Sebenarnya Lamkiong Wan pun enggan
berada disitu tetapi karena ia sudah terlanjur menunggu lama dan perutnya makin
merintih-rintih, sudah tentu ia tak mau begitu saja pergi tanpa hasil apa-apa.
Maka ia memberanikan diri untuk mendebur pintu besar. Tetapi tiada penyahutan
suatu apa. Diulangnya pula sampai dua kali, tetap sepi-sepi saja. Akhirnya ia
mendorong, krieeet,….ah,ternyata pintu itu hanya ditutup tetapi tidak dikunci.
Selekas pintu besar terbuka, seorang nenek
tua segera muncul. Kejut Lamkiong Wan bukan alang kepalang. Wajah nenek itu
luar biasa jelek dan mengerikan. Bertubuh tinggi besar tetapi bungkuk, pinggang
melengkung, kaki pincang, muka psek, mulut lebar, dagu menonjol kemuka, kedua
pipi menggelembung keatas, rambut merah bertebaran pada bahu.
Nenek rambut merah itu membawa sebatang
tongkat dari rotan wulung. Melihat Lamkiong Wan,ia segera menyeringai sehingga
tampak deret giginya yang kuning.
Rupanya ia tersenyum memandang pendatang anak muda itu, tetapi ya ampun…senyumnya
lebih menusuk mata daripada orang menangis.
Tanpa berkata apa-apa Lamkiong Wan berputar
tubuh terus angkat kaki. Tetapi alangkah kejutnya ketika, entah dengan gerak
apa, tahu-tahu nenek jelek itu sudah menghadang didepannya lagi.
Lamkiong Wan terbeliak. Sungguh tak pernah
disangkanya kalau nenek berwajah buruk itu memiliki ilmu gin-kang sedemikian
luar biasa. Mengamati wajah nenek itu sekali lagi, Lamkiong Wan melihat
sepasang mata nenek berambut merah itu memancarkan sinar berkilat-kilat tajam,
menandakan hawa murni yang penuh. Jelas tentu seorang kojiu atau jago sakti
dari dunia persilatan.
Mulut nenek berambut merah itu kembali
menyeringai senyum lalu berkata perlahan-lahan, “Bukankah engkau hendak mencari keluarga Li. Mari kuantar masuk!”
Lamkiong Wan tertawa meringis.
“Terima kasih, nenek. Sebenarnya aku hanya
kebetulan saja lewat di tempat ini, karena….karena….” kata Lamkiong Wan
tersendat-sendat.
Sebenarnya ia hendak merangkai cerita bahwa
dirinya telah dibegal orang, sehingga bekal uangnya habis dirampas. Tetapi dia
tak biasa bohong maka sukarlah untuk mengatakan hal itu.
Tiba-tiba pintu merah dihalaman dalam
terbuka dan keluarlah seorang bujang perempuan setengah tua, dengan sikap ramah
ia berseru: “ Tong siangkong, majikan kami mengundang tuan masuk,”
Kembali Lamkiong Wan terbeliak. Mengapa
dirinya dipanggil Tong siangkong atau Tuan Tong oleh perempuan itu.
“Aku seorang pejalan yang secara kebetulan
saja lewat di tempat ini. Maaf aku tak kenal dengan majikan rumah ini,”
sahutnya.
Dalam pada pembicaraan itu berlangsung,
Lamkiong Wan sempat memperhatikan bahwa nenek berambut merah tadi sudah lenyap
entah kemana. Sudah tentu kejut Lamkiong Wan bukan kepalang. Ia tak tahu dan
tak mendengar suara apa-apa ketika nenek berambut merah itu pergi.
Bujang perempuan setengah tua tertawa,
serunya :” Delapan penjuru dunia ini adalah sesama umat manusia, mengapa harus
membedakan kenal dan tidak kenal? Apalagi siangkong mempunyai nama yang termasyhur
di seluruh dunia. Majikan kami menunggu kunjungan tuan di ruang besar!”
Untuk kesekian kalinya Lamkiong Wan
tertegun. Jika bujang wanita itu halus dan sopan santun tutur bahasanya,
tentulah majikannya seorang yang terpelajar. Karena orang telah mengundangnya,
iapun tak enak hati menolak. Walaupun tahu bahwa dalam hal itu terdapat suatu
keganjilan tetapi karena perutnya lapar sekali, ia tak menghiraukan apa-apa
lagi. Pokoknya ia dapat makan dulu.
“Karena majikanmu sedemikian baik hati,”
katanya, “Terpaksa minta tolong toasoh suka mengantarkan.”
Lamkiong Wan segera mengikuti bujang
perempuan itu masuk. Setelah melintasi sebuah halaman luas yang penuh ditumbuhi
rumput, merejka masuk ke dalam sebuah gedung besar, serambinya berpagar.
Keadaan tempat itu tak terurus sama sekali, menunjukkan suatu gejala seperti
pemiliknya dalam keadaan yang menyedihkan.
Alat-alat perabot dalam gedung itu pun
serba sederhana, hanya beberapa kursi dan meja pat sian coh (berbentuk segi
delapan) yang terbuat dari kayu mahoni.
Bujang perempuan mempersilakan Lamkiong Wan
duduk dan segera menghidangkan secangkir
teh, katanya: “Harap siangkong tunggu sebentar, akan kuberitahukan kepada
majikan.”
Ruang gedung yang sedemikian besar, sama
sekali tak terdengar suara orang lelaki, begitu pula kokok ayam dan gonggong
anjing. Keadaannya sunyi sekali. Sedemikian sunyi hingga Lamkiong Wan dapat
mendengar suara napasnya sendiri.
Diam-diam dia heran.

Pak Lovescan.... ditunggu nih kelanjutannya....
BalasHapusApabila bapak sibuk, jika percaya boleh saya bantu editing nya pak....
Kok tidak lanjut n sekarang n kedepannya semua internet n tiada novel buku kertas lagi
BalasHapus