Sabtu, 13 Agustus 2016

LEMBAH NAGA BERMIMPI


Jilid 1
Bab 2: Gedung Tua Misterius


Lebih kurang seperminum teh lamanya, dari belakang pintu aling muncul dua orang wanita, yang dimuka ialah bujang perempuan setengah tua tadi sedang dibelakangnya juga seorang wanita berumur 40-an tahun, mengenakan pakaian dari sutera hitam, sikapnya angkuh sekali.

Walaupun sudah setengah tua tetapi masih tampak gaya perbawanya. Tentulah dulu ketika masih muda dia seorang gadis yang cantik sekali. Hanya sikapnya tampak angkuh dan dingin.
Menduga bahwa wanita itu tentulah pemilik gedung, buru-buru Lamkiong Wan berdiri member hormat.

Sepasang mata yang indah dari wanita itu memandang Lamkiong Wan beberapa jenak, baru tertawa, ujarnya: “Siangkong gagah dan berisi, mempunyai bakat luar biasa. Sungguh seorang ahli lwekang yang sukar dicari keduanya. Silahkan siangkong ikut aku menemui majikan.”

Lamkiong Wan terlongong. Siapakah wanita itu? Mengapa sekali pandang saja sudah tahu kalau dirinya memiliki ilmu silat? Dan siapakah majikannya itu?
Lamkiong Wan tak dapat mengatakan apa-apa kecuali menurut saja. Setelah melewati pintu aling, mereka masuk kedalam ruang kedua. Alat perabot disitu lebih bersih dari ruang besar dimuka tadi. Tetapi suasananya serupa sepinya.

Wanita baju hitam itu bertepuk tangan dan tak berapa lama dari bilik di belakang ruang itu muncul seorang wanita baju putih. Cantik sekali. Kulitnya putih halus seperti salju dan dengan langkah yang ringan ia menghampiri kemuka Lamkiong wan dan memandangnya terus menerus. Beberapa saat kemudian baru ia berpaling kepada wanita baju hitam itu.
“Benar, mari kita antarkan dia menghadap majikan,” serunya.

Kali ini Lamkiong Wan benar-benar bingung. Ia tak mengerti keluarga apakah penghuni gedung itu. Kedua wanita baju putih dan hitam itu, serba misterius.
Baru saja mengalami guncangan batin lolos dari gereja Siau-lim si, sudah tentua dia kehilangan faham menghadapi keadaan saat itu. Ia hanya menurut saja mengikuti kedua wanita itu menuju ke ruang yang ketiga.

Suasana dalam ruang ketiga itu juga aneh. Alat-alat perabotnya lebih bagus dari ruang kedua. Kedua dinding ruang penuh tergantung lukisan-lukisan dari pelukis ternama, bersemarak menyedapkan mata. Meja kursi yang terbuat dari galih pohon tho, amat bersih sekali.

Setelah mempersilahkan Lamkiong Wan duduk, kedua wanita itu lalu bertepuk tangan dan dari arah belakang ruang, muncul seorang dara membawa hidangan teh wangi, kemudian kembali masuk kedalam lagi.
Tak berapa lama terdengar bunyi gemerincing gelang dan bau harum yang semerbak. Dari belakang ruang itu muncul seorang wanita pula. Wanita baju hitam dan putih tadi segera bangkit menyongsong.
Lamkiong Wan juga ikut berdiri. Diperhatikannya wanita yang baru muncul itu berumur sekitar tiga puluh tahun, mukanya bulat telur, kecantikannya mempesona. Dia mempesona. Dia mengenakan baju leher panjang warna biru muda, berdiri dihadapannya.

Juga seperti wanita baju hitam dan baju putih tadi, wanita baju biru muda itu memandang Lamkiong Wan dari ujung kaki sampai keatas kepala sehingga Lamkiong Wan risih juga.
Beberapa saat kemudian baru wanita itu berpaling dan member perintah kepada bujang dibelakangnya: “Siapkan perjamuan!”

Setelah itu ia memberi isyarat agar Lamkiong Wan dan kedua wanita baju hitam dan putih duduk. Ketiga wanita itu duduk diam.Mereka tak bicara apa-apa melainkan tak henti-hentinya memandang Lamkiong Wan.
Lamkiong Wan makin risih. Ia seperti duduk diatas kursi berduri. Akhirnya ia mempunyai kesimpulan bahwa ketiga wanita itu tentu salah faham, menuangka dirinya sebagai orang yang diharap kedatangannya.

Sebuah gedung yang sedemikian besar, yang ada hanya penghuni-penghuni wanita, sama sekali tiada orang lelakinya. Dan wanita wanita itu sedemikian dingin sikapnya, cantik tetapi gerak geriknya serba misterius. Sebagai seorang anak muda yang baru pertamakalikeluar dari perguruan, Lamkiong Wan tak punya pengalaman apa-apa. Karena yang punya rumah diam saja, iapun juga diam. Sebenarnya ia ingin bicara tetapi tak tahu akan ngomong apa.

Tak berapa lama diatas meja telah dipersiapkan hidangan yang lezat-lezat tetapi sumpitnya hanya sepasang. Ketiga wanita itu mempersilahkan Lamkiong Wan duduk ditengah, menuangkan arak lalu kembali ke tempat duduknya semula. Dengan begitu jelas, hidangan sekian banyak dan macam-macam itu hanya diperuntukkan dirinya seorang.

Lamkiong Wan memang lapar sekali. Maka tanpa sungkan lagi ia terus melahap hidangan itu dengan rakus.
Caranya makan benar-benar menimbulkan kesan  bahwa dia seperti orang yang sudah beberapa hari  tak menelan makanan. Ia sendiri menyadari bahwa hal itu kurang layak, tetapi bagaimana lagi. Ia hanya tertawa meringis.

Walaupun pakaiannya compang camping tetapi sepasang matanya yang bening dan bersinar, wajahnya  yang tampan dan gagah, penuh dengan gaya sifat lelaki yang perkasa. Melihat Lamkiong Wan tertawa, ketiga wanita itupun agak tergerak hatinya.
“Terima kasih sekali atas kebaikan toa-soh kalian yang telah menjamu aku. Maaf, karena masih mempunyai urusan penting terpaksa aku harus menlanjutkan perjalanan dan tak lama-lama disini merepotkan toasoh sekalian. Terima kasih dan mohon diri,” seru Lamkiong Wan dengan nyaring setelah perutnya kenyang.

Wanita baju biru kerutkan alis tetapi pada lain saat ia tertawa mengikik, serunya: “Tong siangkong, lancar bicara, tegas bertindak. Sungguh seorang jago muda yang menggemparkan dunia persilatan. Tetapi dari daerah Tangpak yang jauhnya ribuan li datang ke daerah Tionggoan, masa kan Tong siangkong tak mau lebih dulu bertemu dengan majikan kami dan terus hendak berangkat lagi?”

Lamkiong Wan tertegun.
“Apakah kalian masih mempunyai majikan lagi,” serunya terkejut.
Bermula ia mengira kalau wanita baju biru itulah pemilik gedung. Setitikpun tak disangkanya kalau bujkan. Lalu siapakah pemilik  gedung yang sesungguhnya? Karena mereka  keliru menyangka dirinya sebagai Tong siangkong, maka biarlah ia berpura-pura mengaku begitu. Pali8ng banyak , apabila Tong siangkong itu datang, dia segera angkat kaki dari situ. Demikian ia menimang-nimang.

“Baiklah, kalau begitu harap toasoh suka membawa aku menghadap pemilik gedung ini agar aku dapat menghaturkan terima kasih,” kata Lamkiong Wan.
Wanita baju biru tertawa: “ Rupanya tentu tuan habis melakukan perjalanan jauh sehingga wajah tuan penuh debu kotoran. Mari ikut  aku kedalam untuk membersihkan diri dang anti pakaian. Besok pagi-pagi baru kita menghadap majikanku.”

Belum sempat ia mengambil keputusan, tiba-tiba wanita baju biru itu bertepuk tangan dan muncullah dua orang bujang perempuan. Kepada orang yang berdiri disisi kanan, ia member perintah : “Jiu Lan, bersihkan villa yang merah. Mala mini Tong siangkong akan bermalam disitu.”
Bujang yang dipanggil Jiu Lan itu mengiakan lalu masuk kedalam. Kemudian wanita baju biru  itu berpaling kepada bujang disisi kiri serunya: “Swat Bwe, antarkan Tong siangkong ke kamar mandi.”

Lamkiong Wan serta merta menghaturkan terima kasih atas kebaikan wanita baju biru itu. Kemudian ia mengikuti Swat Bwe keluar dari ruang itu. Mereka menuju ke ruang samping yang didalamnya mempunyai kamar mandi. Swat Bwe membawa air panas dan seperangkat pakaian. Setelah mengancing pintu, Lamkiong Wan lalu merendam diri dalam tahang air hangat itu.

Sudah beberapa hari Lamkiong Wan tak mandi. Selesai mandi ia rasakan badannya segar sekali sekarang. Dan setelah ganti pakaian, dia seolah-olah menjadi seorang manusia baru. Penuh bersemangat, sepasang alis mata dan mata makin tampak bagus, bibir merah dan giginya pun mengkilap putih. Sungguh seorang pemuda yang tampan. Jauh bedanya dengan seorang kacung penunggu dapur pembakaran kertas sembahyang.

Melihat pemuda itu lain seperti yang tadi, bujang Swat Bwe sampai terlongong-longong memandangnya beberapa saat, baru berkata : “Siangkong, mari kuantar beristirahat ke villa Merah.”
Setelah berjalan melintasi sebuah halaman dan sebuah lorong serambi, tibalah  mereka di kamar yang dinamakan Se hong suan atau Villa warna Merah pudar.

Bangunan itu terletak disudut halaman. Pada kedua sampingnya terdapat dua buah pintu bundar model rembulan. Kemudian diluar pintu  terdapat dua buah lorong serambi yang saling berhubungan. Halaman penuh dengan pohon-pohon bunga tho, heng-hay song, botan dan lain-lain.

Dalam villa itu terdapat sebuah ruang kecil lalu sebuah lorong pendek dengan dua buah kamar di kanan kiri. Kamar sebelah kanan sudah dibersihkan. Selambu, seprei, bantal bersulam indah dan bersih. Disisi ranjang tergantung sebuah lampu pelangi. Dekat jendela terdapat sebuah meja marmer yang berkaki kayu ang bok, dengan dua buah kursi sandarannya tinggi tetapi kakinya melengkung bertutup alas kain beludru tebal warna merah.

Dua pot bunga seruni putih pada jendela tengah mekar dan menyiarkan bau yang harum. Jelas kamar itu sebuah kamar yang mewah dan indah. Lamkiong Wan gembira sekali sehingga terlongong-longong seperti orang tolol.
Setelah mengantar sampai kedalam kamar itu, Swat Bwe pun segera pergi. Disitu sudah ada Jiu Lan yang melayani.
“Siangkong, apakah engkau cocok dengan kamar ini?” tanyanya.
“Ya..ya, cocok,” sahut Lamkiong Wan.
“Mungkin siangkong telah menempuh perjalanan yang jauh, silahkan beristirahat. Aku berada diluar, kalau perlu panggil saja.”

Melihat bicara bujang itu teratur dan sopan, tak terasa Lamkiong Wan memandangnya. Dia seorang dara berumur 15-16 tahun, lincah dan menyenangkan. Wajahnya menunjukkan kecerdasan. Tanpa disadari ia berseru: “Bujang penyair dari keluarga The, masakan begitu merendah diri…?”
Kata-kata itu berasala dari suatu sejarah di jaman ahala Han. Dalam rumah sastrawan The Hian, bujang-bujangnya semua belajar sastra. Di kemudian hari, mereka terkenal sebagai bujang penyair.
“Ah, mana aku dapat dibandingkan dengan bujang keluarga The Hian?” sahut Jiu Lan dengan tertawa.

Lamkiong Wan terkejut. Jiu Lan hanya seorang dara tetapi mengapa mengerti apa yang ia ucapkan tadi. Dengan begitu dapat dibayangkan betapa hebat majikannya itu nanti.
Dengan pandang bertanya, Lamkiong Wan berkata pula: “Taci Jiu Lan, siapakah nama majikanmu itu?”

Mendengar pertanyaan itu seketika cahaya muka Jiu Lan agak berobah. Ia memandang Lamkiong Wan, mulut hendak berkata tetapi  tak jadi. Ia hanya menghela napas lalu melangkah keluar.
Melihat gerak gerik bujang itu Lamkiong Wan tertegun. Ia merasa bahwa keadaan gedung yang luas itu agak berbeda dengan rumah-rumah lain. Tetapi ia memutuskan, malam itu akan tidur dengan nyenyak kemudian pagi-pagi sekali ia akan pergi tanpa pamit. Ia tak perduli adakah tindakannya itu tercela atau tidak.

Tiba-tiba Jiu Lan masuk lagi dan berkata dengan perlahan : “Siangkong, mengapa engkau datangke tempat yang berbahaya ini? Apakah engkau tak tahu bahwa gedung keluarga Li ini sudah bukan merupakan lagi apa yang dahulu disebut sebagai It-kiong, Ji-wan, Sam-pang?”
Lamkiong Wan terlongong tak dapat berkata. It-kiong artinya Sebuah Istana. Ji Wan artinya Dua buah gedung dan Sam pang berarti Tiga Perkumpulan.

Berkata pula Jiu Lan : “Siangkong, walaupun engkau berkepandaian tinggi tetapi tak mungkin dapat menandingi nona puteri majikan kami….”tiba-tiba ia berhenti dan terus melangkah pergi.
Lamkiong Wan hendak mengambil dan meminta penjelasan. Tetapi karena melihat wajah bujang itu amat tegang dan tergopoh-gopoh pergi, diam-diam timbul suatu rasa seram dalam hatinya.

Memang anak muda itu selalu ingin tahu segala apa. Walaupun tahu bahwa ia sedang menghadapi sesuatu yang aneh tetapi Lamkiong Wan bahkan malah hendak bermalam disitu. Ia ingin tahu bagaimanakah nona majikan mereka itu.
Tak berapa lama Jiu Lan masuk lagi tetapi selain hanya mengantar hidangan malam, ia tak berkata apa-apa lagi.
Melihat wajah bujang itu gelisah, Lamkiong Wan pun tak mau bertanya lagi soalgedung keluarga Li. Di villa Merah itu ia hanya dilayani Jiu Lan. Bujang lain dan ketiga wanita setengah tua tadi tak pernah muncul. Suasana gedung itu sunyi menyeramkan sekali.

Terbenamnya matahari segera diganti dengan malam yang menebarkan kegelapan. Lentera-lentera yang indahpun mulai bersinar.
Tiba-tiba Lamkiong Wan mendengar langkah kaki orang berjalan. Ia mengira tentulah Jiu Lan yang datang. Tetapi ternyata bukan.
“Tong siangkong, apakah belum tidur?” terdengar sebuah suara yang lembut dan tahu-tahu seorang wanita baju biru sudah tegak dimuka pintu.

Saat itu Lamkiong Wan tengah melamun. Mendengar teguran itu cepat-cepat ia berdiri, serunya : “Entah petunjuk apakah yang hendak nyonya berikan kepadaku?”
Tiba-tiba wajah wanita itu berobah serius, ujarnya: “Memang aku hendak menyampaikan sesuatu kepada siangkong…”
Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan:
“Tong siangkong adalah tuan muda dari Gedung Tong yang merupakan salah satu dari It kiong, Ji Wan, Sam pang yang termasyhur dalamdunia persilatan. Kecerdasan, kepandaian silat, pengetahuan siangkong sudah terkenal diseluruh dunia persilatan,,,..maka tepat kalau dikata, mata seorang ahli tentu takkan kemasukan butir pasir.”

Mendengar kata-kata wanita itu, Lamkiong Wan seperti orang yang mabuk arak, tak tahu apa yang dimaksudkan dengan ucapan ini. Ia bingung tetapi berusaha untuk tetap tenang mendengarkan.
Sejenakmata yang indah dari wanita baju biru itu memandang Lamkiong Wan,lalu berkata pula:
“Tentang bakat kepandaian Tong siangkong nona majikan kami sudah lama mendengar, pun sudah tidak asing lagi. Asal siangkong tak melanggar peraturan gedung ini, tentu akan kami perlakukan siangkong sebagai seorang tetamu terhormat..”

Lamkiong Wan seorang pemuda yang cerdas. Mendengar kata-kata dan memperhatikan wajah orang segera ia dapat menanggapi maksudnya. Tak lain wanita itu hendak memperingatkan dia agar malam itu jangan keluar menyelidiki rahasia mereka. Tetapi ia pura-pura tak mengerti dan sambil tertawa bertanya:
“Atas budi kebaikan kalian terhadap diriku, kelak aku tentu akan menghaturkan terima kasih. Tetapi mengapa kalian hendak membatasi gerak gerikku?”

Wanita baju biru itu tertawa dingin, serunya : “ Kebahagiaan dan bencana tiada berpintu, hanya orang sendiri yang mencarinya. Apabila tingkah laku mu terlalu bebas dan makin melanggar peraturan gedung kami, jangan marah kalau kami akan bersikap lain kepadamu. Takkan memperlakukan engkau sebagai tetamu terhormat tetapi bahkan akan menghukum mati dirimu.”

Lamkiong Wan serentak merasa bahwa dirinya sudah terlibat dalam suatu hal yang masih belum diketahuinya. Ia tertawa hambar.
“Apakah hal ini yang hendak nyonya katakana kepadaku?” serunya.
Wanita baju biru itu tertawa mengekeh.
“Menilik sikap dan wajahmu yang tenang, engkau seperti tak gentar. Tetapi ketahuilah tiada seorang tokoh dalam dunia persilatan yang mampu lolos dari tangan nona majikan kami. Harap  engkau suka berpikir yang panjang,”  serunya lalu melangkah pergi.

Malam pun makin kelam. Walaupun sudah memadamkan lampu tetapi Lamkiong Wan masih belum dapat tidur. Begitu pun ia sudah mengatakan kepada dirinya bahwa urusan itu bukan urusannya mengapa dia harus ikut campur. Namun matanya tetap tak mau dibawa tidur.

Beberapa kali ia turun dari ranjang hendak menyelinap keluar tetapi lain perasaannya mencegahnya. Ia ingin tahui apa sebenarnya yang akan terjadi di gedung itu.
Pada saat ia masih tergolek diatas ranjang tak dapat tidur tiba-tiba ia mendengar suara jeritan yang ngeri memecah kesunyian malam.
Ia terkejut, loncat turun dari ranjang lalu perlahan-lahan menghampiri kemuka jendela. Di luar, malam sunyi senyap bagai sebuah kuburan.

Setelah memperdengarkan jerit yang ngeri, tidak kedengaran suara apa-apa lagi. Suasana pun kembali hening lelap.
Tetapi  ada suatu perasaan seram yang mencengkeram hati Lamkiong Wan. Karena jeritan ngeri itu jelas dari mulut seseorang yang mengalami peristiwa yang menyeramkan sekali.
Jelas dalam gedung keluarga Li yang menyeramkan itu, seseorang telah terbunuh mati. Tetapi siapakah gerangan orang itu?Ia tahu bahwa dalam gedung itu tiada orang lelaki tetapi jeritan itu jelas dari nada suara orang lelaki.

Setelah tegak termenung-menung beberapa saat akhirnya dengan gerak macam naga meluncur, ia loncat keluar jendela dan secepat itu  pula terus loncat keatas atap rumah. Ilmu meringankan tubuh yang dilakuikannya itu hebat sekali. Mungkin tokoh kelas satu dalam dunia persilatan pun hanya setingkat begitu.

Setelah berada diatas genteng,ia mendekam dan memandang ke sekeliling penjurui. Tetapi aneh, seluruh gedung Li yang sebesar itu tetap tenang-tenang saja. Seolah-olah tiada seorang pun penghuninya yang mendengar tentang jeritan seram tadi.

Lamkiong wan yang cerdas segera dapat merangkai suatu kesimpulan bahwa peristiwa yang dihadapinya saat itu benar-benar merupakan suatu kejahatan yang terselubung secara lihay sekali. Mau tak mau ia merasa ngeri juga.

Sekonyong-konyong dari ujung seberang halaman melayang sesosok bayangan manusia. Gerak geriknya sedemikian ringan sekali sehingga tak mengeluarkan suara sedikitpun juga. Orang itu berhenti di halaman villa Se hong suan.
Dengan pandang matanya yang tajam dapatlah Lamkiong Wan melihat keadaan orang itu. Masih nuda berumur sekitar dua piluh tahun, mengenakan pakaian warna biru dengan sabuk putih, bersepatu laras tinggi. Dada bidang, pinggangkencang, wajah bundar seperti bulan purnama, bibir merah berhias gigi putih, tangan mencekal sebuah kipas yang berkerangka baja. Sungguh gagah sekali sehingga diam-diam Lamkiong Wan memuji juga.

Pemuda baju biru itu memandang kearah villa merah. Tiba-tiba ia berputar-putar tubuh dan tiga empat kali menggoyang-goyangkan kipas bajanya lalu berdiri diam lagi.
Lamkiong Wan kerutkan dahi. Tak tahu ia apa maksud gerakan pemuda baju biru itu. Begitu selesai ia menduga-duga tiba-tiba terdengar suara gedebak-gedebuk. Beberapa tubuh manusia rubuh dari balik pohon dan ujung rumah yang gelap.

Bukan kepalang kejut Lamkiong Wan. Ternyata gerakan  kipas dari pemuda baju biru itu mengandung senjata rahasia yang ganas. Senjata rahasia itu tak mengeluarkan bunyi sama sekali tahu-tahu beberapa orang telah rubuh.
Gerakan pemuda itu mencakup kelihayan ilmu silat,pengalaman dan keganasan. Lamkiong Wan merangkai kesimpulan bahwa pemuda baju biru itu tentu seorang jago silat yang hebat.

Terdengar sebuah suara orang mendengus dan pada lain saat dari balik sebatang pohon di tempat yang gelap,muncul seorang baju hitan. Kecuali pada bagian mata yang diberi berlubang, orang itu mengenakan pakaian yang menyelubungi kepala sampai kaki.

Melihat seorang baju hitam muncul, pemuda baju bitu itupun segera melangkah maju menghampiri. Kira-kira terpisah setombak jaraknya, pemuda itu tertawa dingin lalu kebutkan kipas bajanya kemuka.
Lamkiong Wan dapat melihat jelas, dari kipas baja itu telah meluncur tiga batang sinar emas yang selembut bulu kerbau kearah orang baju hitam itu.

Tetapi rupanya orang baju hitam itu sudah bersiap. Pada saat pemuda baju biru menggerakkan kipasnya, ia sudah melangkah  kesamping untuk menghindar lalu maju merapat dan secepat kilat menyambar siku lengan pemuda baju biru itu.

Tetapi pemuda baju bir itupun segera mengendapkan tangannya kebawah, sedang tangan kirinya pun mencabut sebatang pedang pendek dari bajunya dan terus menusuk.
Namun ia menyadari bahwa gaya serangan menusuk secara biasa, tentu tak mungkin dapat melukai lawan. Maka tiba-tiba ditengah jalan, ia balikkan pedang dan meneruskan tusukannya.
Tetapi orang baju hitam itu juga lihay. Melihat perobahan gaya serangan lawan , ia segera menyurut mundur.
Sambil tertawa mengejek, pemuda baju biru itu berseru : “Hmm, engkau dapat menghindar dengan cerdik sekali!”

Orang baju hitam pun menjawab sisnis:
“Sejak masuk kedalam gedung keluarga Li, anda telah membunuhbelasan jiwa penghuni disini. Tentulah anda seorang yang ternama, bukan?”
Agaknya orang baju hitam terkejut juga melihat kepandaian pemuda baju biru itu. Sejauh pengetahuannya, ia belum pernah mendengar tentang seorang jago muda yang sedemikian saktinya.

Juga Lamkiong Wan tak kurang kejutnya. Saat itu baru ia tahu akan keadaan kedua orang itu. Ia tak pernah menyangka bahwa gedung yang tampaknya tiada berpenghuni lelaki dan tanpa penjagaan, ternyata dijaga ketat sekali dan penuh dengan jago-jago kojiu. Demikian pula wanita baju biru itu pun telah memasang penjagaan disekitar villamerah untuk mengawasi gerak-geriknya.

Terdengar pemuda baju biru tertawa perlahan:
“Jika engkau ingin tahu namaku, silahkan engkau pergi ke akhirat dan memeriksa buku cacah jiwa dari Raja Akhirat!” sambil berkata ia terus menusuk dada orang baju hitam.

Melihat serangan itu, cepat orang baju hitam melepaskan hantaman seraya menghindar ke samping. Tetapi sebelum ia sempat berdiri tegak,ujung pedang pemuda itu pun sudah mengancamdadanya lagi. Bukan kepalang kejut orang baju hitam. Berulang kali ia menghindar ke samping seraya menghantam dengan kedua tangannya.

Tetapi pemuda baju biru itu dengan gerak  tata langkah yang lincah dan indah selalu dapat berkisar menghindar, sedang pedang pendeknya bagaikan besi sembraniyang selalu menjurus kearah dada lawan.
Orang baju hitam itu terkejut dan marah, selama berlincahan menghindar itu ia sudah melontarkan dua belas buah pukulan dan bergantiposisi sampai tujuh belas kali. Tetapi tetap tak mampu terlepas dari ancaman pedang pemuda baju biru itu.

Melihat pertempuran itu, diam-diam Lamkiong Wan terkejut dalam hati. Pedang pemuda baju biru itu benar-benar seperti bayangan yang melekat tubuh lawan. Diam-diam iapun memperhitungkan. Andaikata pemuda baju biru itu menyerangnya dengan jurus permainan begitu, hanya dengan jurus Tang-hay pok liong atau Menangkap naga di laut timur, sebuah jurus pelajaran dari Siau-lim si, baru ia dapat memaksa lawan untuk menarik serangannya.

Pada saat itu tampak pemuda baju biru mulai perlahan-lahan mengangkat kipas bajanya dan lurus ditudingkan kearah orang baju hitam.
“Hm, sekalipun engkau lolos dari kejaran pedangku ini tetap jangan engkau mimpi dapat lolos dari kipasku Toh hun san yang berisi belasan macam senjata rahasia,” ia mendengus dingin.
Rupanya orang baju hitam itu menyadari kalau tak mungkin dapat meloloskan diri. Maka iapun hentikan gerakannya sama sekali.

Tiba-tiba terdengar orang baju hitam itu berseru dengan nada sedingin es: “Tetapi apakah engkau yakin kalau mampu lolos dari gedung Li yang telah dijaga rapat ini?”
Mendengar itu Lamkiong Wan terkejut dan memandang ke sekeliling penjuru. Ternyata disekitar villa merah itu telah bermunculan belasan orang baju hitam. Setiap orang baju hitam itu mencekal sebuah senjata trisula berkepla elang hitam. Juga wajah mereka, semua tertutup kain kerudung hitam.

Sambil masih melekatkan pedang dan kipas baja kearah dada orang baju hitam itu, pemuda baju biru itu menyelimpatkan pandang ke sekitar penjuru. Ia tertawa dingin.
“Jika tak salah kawanan orang-orang baju hitam itu tentu barisan Elang Hitam. Jika begitu engkau itulah Ratu Elang Hitam,” serunya.
“Menilik anda sudah dapat mengenal diri kami, tentulah anda juga tahu akan peraturan himpunan kami,” wanita itu mengesuh dingin.

Pemuda baju biru tertawa meloroh:
“Setiap orang persilatan yang dapat menemukan jejak dan mengenal diri kalian, tentu harus mati. Selama ini tiada seorang pun yang dapat hidup,” serunya.
Wanita baju hitam itu berseru dingin:
“Jika kau mengerti hal itu mengapa anda tak lekas-lekas bunuh diri!”
Pemuda baju biru tersenyum.
“Ha, ha, apakah kalian tak memikirkan keselamatannya lagi…,” tiba-tiba pemuda itu memekik amarah seraya mengisar kesamping untuk menghindari pikulan yang dilancarkan wanita baju hitam itu. Dan sekali gerakkan kipasnya maka orang baju hitam tadi segera mengerangtertahan terus rubuh ke tanah.

Wanita baju hitam itu kerutkan alis lalu melengking dan menerjang maju dalam gerak yang luar biasa cepatnya. Tangan kirinya menampar bahu pemuda itu.
Pemuda baju biru miringkan bahunya lalu serentak taburkan pedang dalam gerak seperti menusuk tetapi pun seperti menabas jalan darah bahu wanita itu.

Tetapi wanita baju hitam itu tak menghindar atau pun menyingkir, ia songsongkan kelima jari yang runcing kebelakang untuk mencengkeram siku lengan kiri si pemuda.
Dari tempat persembunyiannya, Lamkiong Wan terkejut menyaksikan kelihayan wanita baju hitam itu. Ia tak menyangka bahwa wanita itu ternyata  seorang kojiu. Tanpa berpaling muka dan tanpa mengisar tubuh, hanya dengan mengandalkan ketajaman telinganya, ia dapat membalikkan tangan kebelakang untuk mencengkeram dengan tepat jalan darah pada siku lengan lawan.

Pemuda baju biru terpaksa menggelincirkan lengannya kebawah sembari menyurutmundur, lalu tertawa dingin.
“Ternyata ilmu kepandaian dari Ratu Elang Hitam memang hebat sekali. Baiklah, hari ini aku akan minta pelajaran lagi…”
Setelah cengkeramannya luput, sambil memegang pinggangnya dengan tangan kanan, wanita baju hitam itupun segera berputar tubuh, tetapi pemuda baju biru itu tak mau member kesempatan lagi.
Ia tertawa meloroh serunya: “ Rupanya saat ini dalam gedung keluarga Li telah merupakan sebuah sarang dari jago-jago silat yang berilmu tinggi ibarat sarang berkumpulnya naga dan harimau. Penuh dengan kabut hawa pembunuhan yang meluap-luap. Tiga hari atau paling lambat tujuh hari lagi aku tentu akan datang mengunjungi nyonya kemari.”
Habis berkata ia terus lari kearah villa Se hong-suan.

Empat orang baju hitam yang bersenjata trisula dan menjaga tempat itu segera menyongsong dengan senjatanya. Tetapi pemuda baju biru itu mengayunkan kaki dan beberapa kali tamparkan kipasnya.
Bluk, bluk, bluk, keempat anggota Elang Hitam itu segera rubuh terkena senjata rahasia yang dimuntahkan dari kipas baja pemuda baju biru.

Setelah merubuhkan lawan, cepat pemuda baju biru apungkan tuibuh melayang keatas genteng lari menuju ke tempat persembunyian Lamkiong Wan.
Lamkiong Wan terkejut, ia hendak menyingkir tetapi tak keburu. Gerakan pemuda baju biru memang cepat  sekali. Tuga batang jarum halus warna emas segera berhamburan menabur muka Lamkiong wan.

Tahu akan keganasan senjata rahasia itu, Lamkiong Wan menekan genteng lalu dengan meminjam tenaga tekanan itu tubuhnyapun melayang ke samping.
Terdengar mulut pemuda baju biru itu mendesis geram. Ia terus menerjang. Pedang di tangan kiri cepat menabas tetapi luput, kipas di tangan kanan menyusul ditamparkan. Rupanya dia sudah tahu bahwa Lamkiong Wan berkepandaian tinggi dan dia memang ingin sekali membunuhnya. Maka tamparan kipas bajanya itu dilambari dengan tujuh bagian tenaga dalam.

Setelah berhasil menghindari tebasan pedang, Lamkiong Wan terkejut melihat tamparan kipas pemuda baju biru itu sedemikian dahsyatnya. Ia tak mau menghindar, kebalikannya malah tamparkan lengan bajunya kearah kipas lawan.
Terjadilah benturan antara lengan baju dengan kipas. Seketika Lamkiong Wan rasakan tubuhnya bergetar keras sedang pemuda baju biru itupun tersurut mundur selangkah.
Pertempuran selanjutnya berlangsung dengan cepat dan seru sekali.

Wanita baju hitam pun menyaksikan pertempuran itu. Bermula ia masih dapat melihat kedua pemuda itu saling bertukar pukulan dan saling menangkis tetapi selanjutnya ia tak dapat mengikuti jalannya pertempuran lagi. Matanya seolah-olah kabur melihat pertempuran yang dilakukan sedemikian cepatnya.

Tiba-tiba wanita baju hitam itu berseru: “Tong siangkong, harap tahan dia!”
Mendengar itu terkesiaplah pemuda baju biru. Dengan cepat matanya berkilat-kilat mengamati Lamkiong Wan dari kaki sampai keatas kepala.
Tiba-tiba ia mengadahklan kepala dan tertawa tergelak-gelak lalu, wut, wut, dua kali kipas bajanyaditamparkan kearah wanita cantik baju hitam.

Rupanya setelah berseru kepada Lamkiong Wan, wanita cantik baju hitam itu hendak melayang keatas genteng. Tetapi sebelum kakinya sempat berdiri tegak, pemuda baju biru sudah menyambut dengan tamparan kipasnya. Tampak bahu wanita baju7 hitam itu bergetar dan tubuhnya pun segera melambung ke udara, menghindari angin tamparan kipas si pemuda baju biru.

Pada saat wanita baju hitam serdang menghindar itu, pemuda baju biru pun segera berputar tubuh dan terus meloncat keatas rumah yang lain dan lenyap dalam kegelapan malam.
Saat itu Lamkiong Wan masih merasakan tangan kanannya kesemutan. Ia hanya dapat memandang cakrawala dan menghela napas panjang. Ia tak mengucap apa-apa tetapi hatinya yang berbicara.

Beberapa saat kemudian, ketika ia berputar tubuh dan memandang kian kemari, ternyata wanita baju hitam dan kawanan baju hitam itu, sudah tak tampak lagi.
Ia pun segera melayang turun dan masuk kedalam kamar. Saat itu hari sudah hampir fajar. Dia masih memikirkan peristiwa-peristiwa tadi tetapi tetap tak dapat memecahkannya. Terlalu rumit dan gelap baginya.

“Dunia persilatan sungguh penuh dengan hal-hal yang aneh dan sukar diduga,” akhirnya ia menghela napas.
Dengan perlepasan pikiran itu, iapun terlena tidur pulas. Sampai matahari sudah memncarkan sinar yang terang benderang, baru ia bangun.
Ternyata di meja sudah tersedia hidangan panmas dan segala keperluan cuci muka. Alat-alatnya mewah dan mahal semua. Demikian pula dengan hidangannya. Sepinggan mi ayam goring ayam, dan ayam panggang serta sebuah botol kecap.
Hidangan itu menyiarkan bau yang membangkitkan nafsu makan. Lamkiong Wan pun tak sungkan. Setelah gosok gigi dan cuci muka, segera ia melahap hidangan itu.

Ada suatu keanehan yang dirasakan. Sampai setengah hari tak tampak barang seorang bujang yang datang kesitu.
Saat itu matahari mulai condong ke barat. Lamkiong Wan melangkah keluar, berjalan mondar mandir diantara gerumbul pohon. Walaupun pohon-pohon bunga itu sudah banyak yang gugur dan layu tetapi dapat juga membangkitkan kesegaran semangat.

Ia tengah tertegun ketika Jiu Lan menghampiri dan berseru: “Siangkong, nyonya kami hendak bicara dengan siangkong.”
Beberapa saat kemudian terdengar suara gemerincing gelang dan di serambi muncullah  wanita baju biru itu. Dengan langkah yang lemah gemulai ia menghampiri Lamkiong wan dan berseru dengan tertawa cerah.
“Ah, siangkong tentu sudah lama menunggu,”
Lamkiong Wan segera mempersilahkannya masuk kedalam ruiang. Wanita baju biru itu memberi isyarat agar Jiu Lan keluar.

Kemudian Lamkiong Wan bertanya tentang keperluan nyonya itu. Tiba-tiba nyonya baju biru berbangkit. Sambil perlahan-lahan menyingkap rambut diatas dahinya ia tertawa.
“Peristiwa yang terjadi semalam tentu mengejutkan siangkong,. Maka aku hendak menghaturkan maaf kepadamu,” Katanya.
Lamkiong Wan terkejut ketika melihat wanita itu menjura dihadapannya.
“Ah, tak usah, tak usah…,” Lamkiong Wan gopoh berseru hendak meminta wanita itu jangan berlaku demikian banyak peradatan. Tetapi sebelum sempat menyelesaikan kata-katanya, ia melihat sebuah jari tangan wanita itu bergerak hendak menutuk lambungnya.

Dalam kejutnya, Lamkiong Wan terpaksa mengeluarkan ilmu sakti Can liong jiu atau penebas naga dari perguruan Siau lim si untukmenampar pergelangan tangan wanita itu.
Wanita baju biru mengisar langkah dan menghindari kemudian tertawa rendah: “ Ilmu Can-liong jiu dari Siau-lim si!”
Suara tawa wanita semerdu burung kenari berkicau, gemerincing laksana butir-butir mutiara menumpah diatas penampan kumala. Disertai dengan gaya yang mempesona, Lamkiong Wan terpukau.

Tetapi pada saat itu tangan wanita baju biru sudah bergerak pula untuk balas menampar siku lengan Lamkiong Wan.
Lamkiong Wan tersentak dari longongnya. Ia rasakan suatu arus tenaga lunak yang dingin memancar keluar dari lengan baju wanita itu. Cepat ia menghimpun tenaga murni dalam dada, membalikkan lengan tangan dan balas memancarkan tenaga dalam lalu mundur selangkah.
“Jika nyonya tak berhenti menyerang, maaf kalau aku berlaku kurang sopan,” serunya.

Namun wanita baju biru itu tetap tertawa.
“Ah, lagi-lagi ilmu pelajaran dari Siau-lim si. Hebat sekali tenaga pukulan itu,” serunya seraya menyelimpat maju kesamping Lamkiong Wan. Tangan kanan mencengkeram dan kaki kiri yang semulus salju bercampur warna merah mawar, segera beraqyun menendang.

Lamkiong wan mengisar setengah langkah ke samping, menghindari cengkeraman. Tetapi selekas itu harus kerutkan dahi karena melihat betis yang putih dari wanita baju biru itu. Cepat ia gunakan jurus Hoa-liong tiam ceng atau Menyelesaikan lukisan naga dengan menitik mata, dua buah jari telunjuk dan jari tengah, segera menutuk jalan darah Wi tiong hiat di lutut wanita itu.

Wanita baju biru itu miringkan tubuh, secepat kilat ia balas menutuk perut Lamkiong Wan tetapi Lamkiong Wan tak gentar. Dengan jurus Peng hui ngo thian atau Mengangkat lurus lima sinar, ia menepis ke samping.

--Bersambung ke Jilid 2- Bab 3
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar